Diskon adalah alat. Tanpa plafon, ia menjadi kebiasaan kasir dan sales untuk menutup negosiasi yang mereka tidak mau hadapi. Pelanggan lalu belajar: harga papan bukan harga. Margin menipis, tapi omzet “terjaga”. Itu pertumbuhan palsu.
Kebijakan diskon yang sehat menjawab tiga pertanyaan: siapa boleh memberi, berapa maksimal, dan bagaimana mengukur apakah promo itu laku atau hanya ramai.
Hitung lantai harga sebelum janji ke pelanggan
Lantai = HPP + biaya variabel langsung (packing, ongkir, komisi kanal) + margin minimum yang Anda tetapkan. Contoh: HPP Rp18.900, packing Rp500, komisi marketplace 8% dari harga jual. Jika harga jual Rp24.000, komisi Rp1.920, sisa Rp24.000 − 18.900 − 500 − 1.920 = Rp2.680. Margin itu sudah tipis. Diskon 10% di listing (harga jadi Rp21.600) hampir pasti merugi di kanal itu.
Buat tiga angka per kategori, bukan per 800 SKU jika belum mampu: harga papan, harga member, harga lantai (kasir tidak boleh tembus tanpa owner). Tempeld di belakang kasir, bukan di etalase.
Jenis diskon yang berbeda akibatnya
- Potongan nota: langsung potong omzet. Paling mudah diukur, paling gampang merusak jika bebas.
- Bonus barang: “beli 10 gratis 1” adalah diskon HPP. Hitung HPP 11 unit dibagi 10. Sering lebih jujur daripada potongan persen.
- Voucher kunjungan berikutnya: menunda potongan. Bagus untuk kas hari ini, tapi jadi hutang voucher. Catat saldonya.
- Diskon tempo: “bayar 7 hari dapat 2%”. Itu biaya uang, bukan promo etalase. Beri hanya ke pelanggan yang memang disiplin.
Hak kasir vs hak supervisor vs owner
| Peran | Boleh | Tidak boleh |
|---|---|---|
| Kasir | Promo terdaftar, voucher valid, member | Ketik diskon manual, bundling liar |
| Supervisor | Komplain wajar s.d. 5% atau Rp20.000 | Tembus lantai harga |
| Owner | Tembus lantai untuk strategi (habiskan expired, kunci pelanggan besar) | Lupa mencatat alasan |
Setiap diskon di luar daftar harus punya alasan di nota: “expired 14 hari”, “komplain basah”, “paket reseller”. Tanpa alasan, audit tidak mungkin.
Promo yang ramai vs promo yang untung
Ukur 14 hari: omzet SKU, laba kotor SKU, dan apakah SKU A (magnet) menyeret SKU B. Promo yang hanya menggeser pembelian dari minggu depan ke minggu ini (bukan menambah) adalah diskon untuk pelanggan setia yang tetap akan beli. Itu hadiah, bukan akuisisi.
Bundling lebih aman daripada potongan lebar: paket sabun+pelembut dengan HPP gabungan yang masih menyisakan margin. Pelanggan merasa dapat “deal”, Anda mengontrol mix.
Dampak ke sales lapangan
Komisi dihitung dari harga setelah diskon, atau dari laba kotor, bukan dari omzet kotor. Kalau komisi dari omzet kotor, sales akan dorong diskon besar. Tulis di kontrak internal. Pelanggan “khusus” yang selalu dapat harga lantai harus ditinjau: mereka mahal dirawat jika menularkan ekspektasi ke pelanggan lain.
Diskon tanpa lantai harga adalah keran terbuka. Kunci keran di kebijakan, baru di sistem. Setelah aturan tertulis, kasir yang tidak bisa mengetik diskon liar jauh lebih tenang.
Member, reseller, dan walk-in
Tiga daftar harga maksimal: normal, member, reseller. Lebih dari itu, kasir akan “nego”. Reseller wajib nama terdaftar dan MOQ. Member jangan diberi harga reseller. Walk-in yang marah karena tetangga dapat lebih murah: tunjukkan syarat (qty, kartu, tempo lunas). Jika Anda selalu kalah di negosiasi, lantai harga tidak ada — yang ada hanya rasa bersalah.
Ukur diskon sebagai % omzet. Jika potongan nota tembus 8–10% tanpa kenaikan qty yang sepadan, promo sedang membeli omzet mahal. Turunkan plafon kasir dulu, baru pasang spanduk baru.
Bolana ERP atau POS lain hanya menegakkan plafon yang sudah Anda putuskan.
Promo yang boleh diulang, yang harus mati
Boleh diulang: bundling yang marginnya masih di atas lantai, voucher kunjungan berikutnya dengan expiry pendek, diskon member yang sudah dihitung di harga keanggotaan. Harus mati: “diskon karena pelanggan marah” tanpa form, harga khusus WhatsApp yang tidak ada di sistem, dan obral kelas A hanya karena sales kalah tawar.
Uji 14 hari: bandingkan laba kotor kategori yang dipromosikan vs 14 hari sebelumnya, plus stok akhir. Kalau omzet naik 20% tapi laba kotor nominal turun, promo itu membeli keramaian. Matikan, ganti bundling.
Kasir perlu naskah singkat: “Harga ini sudah harga toko. Member dapat X. Reseller mulai qty Y.” Tanpa naskah, mereka akan ciptakan harga keempat di kepala.
Komentar (0)
Tulis KomentarBelum ada komentar. Jadilah yang pertama!